Pemimpin
Tahun 1962 Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan kebijakan; "Pendidikan agama harus diadakan sejak sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi, sesuai agama yang dianut masing-masing".
Di ITB pada saat itu, bang Imad (Imaduddin Abdurrahim, murid M. Natsir & Rusyad Nurdin) mengusulkan Ustadz Rusyad Nurdin sebagai dosen mata kuliah agama itu. Tetapi Ustadz Rusyad tidak bersedia. Bang Imad berinisiatif berangkat ke Jakarta menemui pak Natsir yang juga Guru sekaligus sahabat Ustadz Rusyad.
Pak Natsir langsung menulis sepucuk surat untuk Ustadz Rusyad. Surat itu disampaikan bang Imad ke Ustadz Rusyad setibanya di Bandung. Setelah membacanya, Ustadz Rusyad tersenyum sembari berkata; "Kok dik Imad tahu benar, bagaimana membuat saya menjadi bersedia untuk mengajar. Insya Allah saya akan mengajar, karena sudah ada perintah dari pak Natsir!".
Perintah. Ya, kata "perintah" yang digunakan Ustadz Rusyad. Beliau memosisikan diri sebagai prajurit dan pak Natsir sebagai panglima. Sebagai pemimpinnya.
Kisah ini mengingatkan pula akan perkataan sahabat pak Natsir lainnya, Kyai Noer Ali Bekasi kepada putranya (Amin Noer); "Liat lu tong, itu pak Natsir pemimpin gua!". Kata beliau yang telunjuknya mengarah ke pak Natsir di suatu acara.
___
Doc: Natsir Corner
Referensi:
- H.M. Rusyad Nurdin; Ulama, Pejuang, Politikus, Pemimpin Demokrat, Pendidik, dan Pendakwah., Jakarta, Multipro, 2005
- Antara Da'wah dan Politik, Jakarta, DDII, 2008
