Bolehkah Memilih Calon Pemimpin yang Cacat Aqidah dan Moral?
![]() |
| Gambar Hanya Ilustrasi |
Sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa umat Islam membutuhkan negara dan pemerintahan untuk menyempurnakan penerapan Syariat Islam secara menyeluruh dan meraih ridha Allah SWT dalam rangka beribadah kepada-Nya. Untuk itu diperlukan calon pemimpin yang memenuhi unsur-unsur pemimpin yang baik menurut Syariat, karena kepemimpinan adalah bagian dari ibadah dalam Islam. Sebagai sebuah ibadah, merupakan kedzaliman apabila dihidangkan kepada umat calon pemimpin yang tidak memenuhi kriteria pemimpin muslim yang baik dan benar menurut yang dikehendaki Allah, bahkan apalagi bila calon pemimpin tersebut memiliki cacat aqidah dan moral yang parah. Bagaimana mungkin beribadah dengan cara yang tidak disukai oleh Dzat yang diibadahi. Jelas yang demikian itu merupakan kemungkaran yang sangat besar.
Tidak mungkin
seorang muslim yang baik akan memilih seorang pemimpin yang pernah melecehkan
lafadz Allah, menghina Allah dan Syariat Islam, melecehkan fatwa Departemen
Agama, menganut paham liberalisme dan pluralisme agama, memuji-muji dan
mengidolakan tokoh Syiah, mengagumi tokoh sesat Al Hallaj dan Siti Jenar,
melecehkan orang yang berpendapat haram mengucapkan selamat Natal, menyukai
NAZI, bangga dengan gen Yahudi dan kelompok freemasonrinya dan secara
demonstratif menampilkan kebanggaannya di semua property miliknya, angkuh, suka
menghina dan melecehkan orang lain, berselingkuh, mendukung LGBT, menyatakan
akan melegalkan kawin sesama jenis apabila terpilih jadi penguasa, mendukung
pelaku kemaksiatan, menolak penutupan lokalisasi pelacuran, mengingkari janji
dan sumpah, menghalalkan daging babi, tidak mampu mengurus dan mendidik
keluarga, membolehkan anak-anaknya berbuat dosa, suka bicara kotor dan jorok,
dan lain sebagainya. Apakah calon pemimpin yang memiliki reputasi buruk dalam
aqidah dan moral seperti ini yang akan dipilih? Mungkin sudah terbayangkan
bagaimana jadinya apabila calon pemimpin yang memiliki track record kelam
seperti ini menjadi pemimpin masyarakat nantinya.
Syaikh Al
Mubarakfury rahimahullah berkata tentang orang yang mengidolakan orang kafir
dan sesat:
“Sabda Nabi “Seseorang bersama yang yang dia
cintai”, maksudnya adalah dia akan dikumpulkan bersama orang yang dia cintai
dan akan menjadi teman untuk yang dicarinya, Allah berfirman: “Barangsiapa yang
taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka mereka akan bersama orang-orang yang yang
dianugerahkan oleh Allah nikmat atas mereka”, dan secara lahir hadits, mencakup
keumuman baik untuk mencintai orang shalih atau orang yang tidak shalih, dan
yang menguatkan pendapat ini adalah hadits yang berbunyi: “Seseorang sesuai
dengan agama temannya”, sebagaimana yang sudah disebutkan. Maka di dalam hadits
ini, terdapat motivasi (untuk berteman dengan orang shalih) dan peringatan
keras (untuk tidak berteman dengan orang tidak shalih), di dalam hadits ini
terdapat janji yang baik (bagi yang berteman dengan orang shalih) dan ancaman
siksa (bagi yang berteman dengan orang tidak shalih).” (Lihat kitab Tuhfat Al
Ahwadzi)
Jangan sampai
hari kiamat kita seperti apa yang disebutkan di dalam ayat di bawah ini akibat
menjadikan idola yang tidak pantas untuk diidolakan sebagai teman, baik karena
kekafirannya, kesyirikannya, kebid’ahan dan kemaksiatannya.
“Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan
dalam neraka, mereka berkata: Alangkah baiknya, andai kata kami taat kepada
Allah dan taat (pula) kepada Rasul. Dan mereka berkata: “Wahai Rabb kami,
sesungguhnya kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami,
lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).” (QS. Al Ahzab: 66-67)
Sebuah
peringatan keras dalam al-Qur’an bagi mereka yang menjadikan idola selain orang
Islam akan dibangsakan sebagai orang munafik. Firman Allah An Nisaa Ayat 138 –
140:
“Kabarkanlah kepada
orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu)
orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong
dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi
orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.”
Menurut Ibn
Katsir dalam tafsirnya, yang dimaksud dengan lafadz “auliya’” itu bermakna
penolong, kekasih, teman akrab, pemimpin dan idola. Adanya rasa simpatik dan
empatik dalam hati karena menjadikan penolong, kekasih, teman akrab, pemimpin
dan idola ghairul muslim, bisa menyebabkan lunturnya iman seseorang dan bisa
mengkonversi dari mukmin menjadi munafiq.
Kelompok
munafik adalah sejelek-jeleknya umat. Mereka lebih hina daripada orang kafir.
Siksaan bagi munafikin-pun lebih pedih, bahkan mereka ditaruh di dasar neraka
(inna al-munaafiqina fi al-darki al-asfal mi al-naar).
Selanjutnya,
akankah kita memilih calon pemimpin yang hobi memperolok aturan-aturan Allah?
Allah SWT berfirman,
“Orang-orang
munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surat yang
menerangkan apa yang tersembunyi di dalam hati mereka. Katakanlah kepada
mereka: “Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan RasulNya)”.
Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti. [At Taubah:64].
“Dan jika kamu
tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan
menjawab: “Sesungguhnya kami hanya bersenda-gurau dan bermain-main saja”.
Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya, kamu selalu berolok-olok?”.
[At Taubah:65].
“Tidak usah
kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami mema’afkan
segolongan dari kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengadzab
golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat
dosa.” [At Taubah:66].
Ayat ini
menjelaskan sikap orang-orang munafik terhadap Allah, RasulNya dan kaum
mukminin. Kebencian yang selama ini mereka pendam, terlahir dalam bentuk ejekan
dan olok-olokan terhadap Allah dan RasulNya.
Para ulama
bersepakat bahwa orang yang suka memperolok Syariat Islam dihukumi berdosa
besar bahkan kafir. Istihzaa’ termasuk salah satu dari pembatal-pembatal
keislaman. Dalam ta’liq (syarah) terhadap kitab Aqidah Ath Thahawiyah, Syaikh
Shalih Al Fauzan mengatakan: “Pembatal-pembatal keislaman sangat banyak.
Diantaranya adalah juhud (pengingkaran), syirik dan memperolok-olok agama atau
sebagian dari syi’ar agama, meskipun ia tidak mengingkarinya.
Ketika
mengomentari surat At Taubah ayat 64-66, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan:
“Ayat ini merupakan nash bahwasanya memperolok-olok Allah, ayat-ayatNya dan
RasulNya hukumnya kafir.”
Dari penjelasan
para ulama di atas dapat disimpulkan, bahwa istihzaa’ bid din termasuk dosa
besar yang dapat mengeluarkan pelakunya dari agama. Oleh karena itu, Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab memasukkan perkara ini sebagai salah satu pembatal
keislaman.
Kita diingatkan
oleh Allah untuk tidak bermajlis dengan orang yang suka memperolok Agama, “Dan
sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Qur’an bahwa apabila
kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh
orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka
memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian),
tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan
orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam jahannam.” [An Nisa’:140].
Berkaitan
dengan ayat ini, Syaikh Abdurrahman As Sa’di mengatakan dalam tafsirnya: “Yakni
Allah telah menjelaskan kepada kamu –dari apa yang telah Allah turunkan
kepadamu- hukum syar’i berkaitan dengan menghadiri majelis-majelis kufur dan
maksiat. Allah mengatakan “bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah
diingkari dan diperolok-olokkan” yaitu dilecehkan, maka sesungguhnya kewajiban
atas setiap mukallaf (orang yang sudah baligh dan berakal sehat) apabila
mendengar ayat-ayat Allah adalah mengimaninya, mengagungkan dan memuliakannya.
Itulah maksud diturunkannya ayat-ayat Allah. Dialah Allah yang karenanya telah
menciptakan makhluk. Lawan dari iman adalah mengkufurinya, dan lawan dari
pengagungan adalah melecehkan dan merendahkannya. Termasuk di dalamnya adalah
perdebatan orang-orang kafir dan munafik untuk membatalkan ayat-ayat Allah dan
mendukung kekafiran mereka.
Firman Allah
“Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan
mereka”. Yakni jika kamu duduk bersama mereka dalam kondisi seperti itu, maka
kalian serupa dengan mereka, karena kalian ridha dengan kekufuran dan pelecehan
mereka. Orang yang ridha dengan perbuatan maksiat, sama seperti orang yang
melakukan maksiat itu sendiri. Walhasil, barangsiapa menghadiri majelis
maksiat, yang disitu Allah didurhakai dalam majelis tersebut, maka wajib atas
setiap orang yang tahu untuk mengingkarinya apabila ia mampu, atau ia
meninggalkan majelis itu bila ia tidak mampu.”
Anehnya
sebagian orang justru bersuka cita bersama pelaku istihza bid Dien
sekalipun mereka mendengar dan
mengetahui perkataannya yang melecehkan agama dan mempermainkan simbol-simbol
agama serta syi’ar-syi’arNya, wal iyadzu billah!
Anda yang akan
menyalurkan hak pilihnya dalam perhelatan Pemilihan Kepala Daerah dan
sebagainya, saat ini kita lebih membutuhkan pemimpin yang benar aqidah, ibadah
dan akhlaknya, pemimpin yang amanah dan profesional. Ingatlah bahwa hak pilih
kita termasuk amanah, dan persaksian di hadapan Allah. Yang semua itu nantinya
akan kita pertanggung jawabkan di hadapan-Nya. Jangan digunakan sembarangan dan
jangan mengedepankan hawa nafsu. Allah mengingatkan kita,
“Takutlah
kalian terhadap hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah.
kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang
telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak didzalimi.” (QS. Al-Baqarah:
281)
