Bung Karno: Revolusi Indonesia, Revolusi Muhammad
![]() |
| Gambar Hanya Ilustrasi |
Dalam amanatnya pada peringatan Maulid Nabi Muhammad, 6 Agustus 1963, bung Karno berpidato: "Semangat ajaran Nabi Muhammad itu yang membawa kita pada perjuangan, kerelaan berkorban menuju revolusi Indonesia. Semangat ajaran itu yang membuat bangsa Indonesia menjadi seperti sekarang ini."
"Nabi
Muhammad adalah pemimpin terbesar." Tegasnya
Mochammad Nur
Arifin, penulis buku Bung Karno "Menerjemahkan Al Qur'an"
menyebutkan, bukan sekali atau dua kali saja bung Karno bicara tentang sosok
Nabi Muhammad. Ada sederet pidato Bung Karno yang berbicara tentang Sang Nabi.
Khususnya itu disampaikan dalam beberapa amanatnya pada peringatan Maulid Nabi
Muhammad di Istana Negara. Bung Karno tidak pernah kehabisan bahan, kata-kata,
dan pujian untuk Sang Nabi. Baginya, Nabi Muhammad adalah samudera hikmah dan
keteladanan. (167)
Nur Arifin
dalam bukunya menyampaikan beberapa pernyataan Bung Karno terkait Sang Nabi di
antaranya;
1. Bung Karno
meminta kepada Menko Prof. Kyai Saifuddin Zuhri agar tidak pernah lupa
menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi Muhammad di Istana Negara setiap bulan
Maulid tiba. (171)
2. "Nabi
Muhammad adalah mata air keteladanan revolusioner." (172)
3.
"Sejarah umat manusia dipenuhi orang-orang besar. Bangsa besar pasti
memiliki orang besar. Dimana-mana ada orang besar. Tapi orang-orang besar itu
tidak luput dari salah. Siapa berani berkata bahwa orang-orang besar itu tidak
pernah bersalah? Semua pernah bersalah karena khilaf dan salah adalah sifat manusia,
tapi Nabi tidak pernah bersalah. Kepemimpinannya mutlak benar. Karenanya, kita
harus tunduk pada kepemimpinannya." (172)
4. Bung Karno
menegaskan dirinya terlalu kecil apabila dibandingkan dengan Nabi Muhammad.
"Muhammad telah mencapai puncaknya puncak dari ketinggian yang bisa
dicapai oleh manusia." katanya. (173)
5. "Tapi
ajarannya (ajaran Nabi Muhammad) bukan saja berlaku untuk satu daerah, satu
negara. Ia berlaku dimana-mana. Bahkan ajarannya berlaku untuk sepanjang
zaman." (173)
