Menolak Miss World Bentuk Intoleransi?

Gambar Hanya Ilustrasi


Toleransi adalah saling menghargai. Kita disebut tidak toleran terhadap mereka. Padahal, mereka memaksakan budaya mereka untuk kita terima. Siapa yang tidak toleran? 'Budaya' (Syari'at) Islam ditolak bahkan dilecehkan di sebagian negara Barat. Itukah toleransi? Tapi saat kita menolak budaya mereka, kita dituduh tidak toleran. Itulah wajah asli sekularisme, liberalisme dan pluralisme: MUNAFIK

Bila Miss World terlaksana, maka tersebutlah: "Di negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia; aurat tertutup, terjaga dan terhormat yang dijunjung tinggi umat Islam ternyata diumbar seenaknya." Miss World adalah pelecehan terhadap keyakinan dan kehormatan kita. Bahwa tidak boleh ada sikap lemah dalam menghadapi para perusak keyakinan dan izzah kita. Tidak ada kata lain selain, lawan!

Tidak ada yang istimewa dari Mis World. Miss World hanya menunjukkan cara pandang Barat terhadap perempuan tidak berubah dari zaman ke zaman. Hingga abad ini yang disebutnya abad puncak penghargaan atas kemanusiaan. Perempuan adalah komoditi. Barang. Modal. Untuk dikapitalisasi, dipasarkan. Apapun kemasannya.

Sebagaimana godaan setan. Digoda untuk meninggalkan ketaatan tidak mempan. Digodalah korbannya dengan pujian atas ketaatannya. Sehingga terbitlah rasa sombong. Begitulah terhadap perempuan. Dulu dijual dengan benderang. Terasa terhina, terjajah, tersakiti. Sekarang dijual terselubung. Selubung popularitas, gelimang kekayaan, puja dan puji. Terasa bangga, bahagia. Padahal statusnya sama: For Sale

Bukankah asal mula Miss World adalah kontes kecantikan binatang? Jadi, Miss World adalah proses membinatangkan manusia. Bila dengan nada sedikit kasar, (bagi penyelenggaranya) Binatang yang dipercantik lalu dipajang dan siap untuk diperjual-belikan. Masihkah pula kita yang berbeda dengan mereka terus latah? Belumkah pelajaran diambil akibat kebiasaan latah ini kita tidak pernah bangkit dari keterpurukan? Istiqomah jadi bangsa pengekor, khusu’ jadi negeri “terserah tuan.”

Mengerikan. Padahal saat kita dilahirkan. Kita adalah The Winner, Sang Pemenang. Pemenang kompetisi dari jutaan calon manusia lain di rahim ibunya. Lalu atas alasan apa di kehidupan ini kita harus jadi pecundang? Dipecundangi manusia lain, yang bahkan tidak beragama dan tidak bertuhan. Untuk itukah keringat, darah dan nyawa sang Bunda (yang adalah seorang perempuan) dikorbankan untuk melahirkan kita di jagat raya ini?

Janganlah engkau kufur sesudah beriman!

Cara berdemokrasi kita ternyata masih awam. Memahami demokrasi bahwa mayoritas harus terus mengalah terhadap keinginan minoritas. Mendukung Miss World dengan dalih demokrasi jadinya salah kaprah. Sejatinya, kita sama sekali tidak takut menghadapi perang puputan, perang pipitan, perang pepetan atau perang mpot-mpotan sekalipun. Hanya kita akan disebut tidak waras kalau harus berperang dengan orang-orang bodoh dan tidak waras itu. Perang fisik melawan orang-orang kafir Hindu yang terbodohi itu (saat ini) sama sekali tidak penting dalam jihad besar kita menolak Miss World.

Tradisinya (yang sangat disayangkan), Pemerintah baru akan bergerak dan bertindak setelah ada darah dan air mata. Tapi, memangnya sejak kapan pemerintah peduli dengan nyawa rakyatnya? Tidak perlu banyak berdebat dgn yang pro Miss World. Karena hakikatnya mereka sudah menolak pendapat kita sebelum mereka mendengarnya. Perangi saja Miss World itu! Mereka menggonggong, penolakan jangan melemah. tetapkan, hanya berharap kerelaan Allah bukan kerelaan mereka.

Postingan populer dari blog ini

Pendidikan Islam Integral

Al-Ghazali dan Perang Salib

Keprihatinan Seorang Natsir