Pemuda Islam, Sumpah Pemuda dan Pemuda Natsir
Peran Pemuda
Islam
Gambar Hanya Ilustrasi
Sebagaimana
tercatat dalam sejarah, penyelenggaraan Kongres Pemuda I, 2 Mei 1926 dan Kongres
Pemuda II, 28 Oktober 1928, didahului oleh Kongres Jong Islamieten Bond (JIB)
Pertama di Yogyakarta, Desember 1925. Saat itu JIB telah memiliki 1.000 lebih
anggota di 7 cabang. Selain itu, cabang Bandung dan Jakarta memiliki JIB Dames
Afdeeling. (Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah 1)
Jumlah anggota
dan cabang yang dicapai pada waktu itu, merupakan prestasi JIB. Ini pertanda
kehadirannya sangat dinantikan oleh kalangan pemuda yang mengharapkan
bangkitnya organisasi pemuda Islam modern yang terlepas dari kungkungan adat
dan kesukuan.
Selanjutnya,
diselenggarakan Kongres ke 2 JIB di Surakarta, 24-26 Desember 1926 dan Kongres
JIB 23-27 Desember 1927 yang mencita citakan persatuan dan kebangsaan.
Kongres pemuda
Islam itu ternyata ditentang keras oleh Kongres Budi Utomo di Surakarta, 6-9
April 1928, yang menolak cita-cita persatuan Indonesia. Sebagaimana diketahui,
Budi Utomo sendiri menolak cita-cita kemerdekaan Indonesia, keanggotaannya
khusus untuk bangsawan Jawa, hanya menggunakan bahasa Jawa dan Belanda, menolak
menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa perjuangan dan persatuan, bersifat
kesukuan, menolak ajaran dan kegiatan keislaman untuk anggota Budi Utomo.
Untuk menjawab
tantangan keputusan Kongres Budi Utomo itu, PPPKI (Perhimpunan Permufakatan
Politik Kebangsaan Indonesia) menyelenggarakan Kongres Pemuda II 28 Oktober
1928 di Kramat Raya 106 Jakarta. Selain dihadiri oleh banyak perwakilan
organisasi pemuda, Kongres ini juga
dihadiri Pengurus Besar Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) yang diwakili oleh
S.M. Kartosuwiryo, yang saat itu baru berusia 23 tahun. Hal ini menunjukkan
betapa besar perhatian PSII terhadap Kongres Pemuda II dan cita-cita persatuan
Indonesia. Sementara Jong Java diwakili oleh R.M. Mas Said, bukan sebagai
seorang pelajar tapi sebagai Mantri Polisi.
Kehadiran
seorang Mantri Polisi dapat dipahami tidak mungkin berpihak kepada perjuangan
pemuda pelajar. Sebab, dalam menjalankan indirect rule system, pemerintah
kolonial Belanda mendapat dukungan dari para penguasa Pribumi atau Pangreh
Praja dan Polisi. Umumnya para Bupati menjadi anggota atau pimpinan Budi Utomo.
Polisi pun diangkat dari Jong Java, organ pemuda Budi Utomo. Apabila Pangreh
Praja dan Polisi telah menjadi tangan kanan pemerintah kolonial Belanda,
dapatlah dipahami apa sebenarnya tugas wakil Jong Java dan Mantri Polisi dalam
Kongres Pemuda II saat itu.
Dari sepenggal
paparan sejarah di atas, dapat diketahui bahwa Peran Partai Islam dan Pemuda
Islam sangat besar sehingga dapat terselenggaranya Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928,
yang dianggap sebagai salah satu tonggak terpenting kebangkitan dan persatuan
bangsa untuk lepas dari penjajahan.
Seputar Sumpah
Pemuda
Sumpah Pemuda:
1. Kami putra
dan putri Indonesia Mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia
2. Kami putra
putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia
3. Kami putra
dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia
Sumpah Pemuda
ini, oleh Mr. Mohammad Yamin, setelah menjabat Menteri P dan K, disebutnya
sebagai Sumpah Pemuda Indonesia Raya karena 17 tahun kemudian pengaruhnya
melahirkan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Yamin mencoba membentuk
opini publik dengan menyatakan bahwa kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia
berhasil terbentuk karena pengaruh agama Budha dan Hindu. Yamin menafikan peran
umat Islam menyukseskan terwujudnya peristiwa Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.
Penafian peran
umat Islam itu lazim dilakukan kalangan nasionalis sekuler hingga saat ini
dalam rangka melakukan proses nativisasi. Yakni upaya untuk memutus, mengecilkan,
mengaburkan bahkan menghilangkan peran dan jasa juga keberadaan Islam dan umat
Islam di Indonesia. Sehingga umat Islam merasa tidak memiliki hak dan
kewenangan apapun untuk mengelola serta memimpin bangsa ini, yang selanjutnya
umat Islam selalu bisa diperbudak, dijajah dan ditindas. Sikap tersebut
merupakan warisan penjajahan yang ditanamkan agar rakyat Indonesia bermental
terjajah sehingga suatu waktu mudah kembali untuk dijajah.
Pemuda Natsir
Mohammad
Natsir, selepas berdirinya Jong Islamitien Bond (JIB) menjadi ketua JIB cabang
Bandung pada tahun 1928 di usia 20 tahun, di waktu beliau sedang giat-giatnya
mengaji agama kepada gurunya, tuan A. Hassan. Pemuda Natsir prihatin melihat
kondisi pemuda dan pelajar Islam di sekolah-sekolah Belanda yang dijauhkan dari
agamanya dengan pelajaran-pelajaran yang minus agama dan kegiatan-kegiatan yang
bisa melunturkan aqidah Islam, seperti kunjungan ke Gereja dan mendengarkan
ceramah dari Pendeta. Untuk itulah pemuda Natsir kemudian mengaji Islam secara
mendalam kepada Tuan A. Hassan seorang Guru Utama Persatuan Islam. Dengan bekal
pengetahuan agamanya, pemuda Natsir berdakwah di lingkungan teman-temannya dan
menulis beberapa buku tentang sholat, puasa dan lainnya agar bisa dibaca dan
menjadi pegangan bagi para pelajar Islam. Saat ini Natsir dikenang sejak
mudanya sebagai pejuang dan intelektual Islam yang sangat gigih membela
agamanya dan sengit melawan pemikiran dan upaya-upaya yang bisa merusak Islam
hingga akhir hayatnya.
Generasi muda
Islam saat ini patut meneladani para pemuda Islam di masa lampau agar dapat
bersikap arif bijaksana menghadapi tantangan di masa depan. Natsir memberikan
ketaladanan yang tidak pernah kering. Natsir konsisten menyampaikan pesan
kepada pemuda Islam dalam ceramah dan tulisan-tulisannya, antara lain:
Pertama, Natsir
menulis tentang Islam dan Kebudayaan (M. Natsir, Capita Selecta 1).
Digambarkannya betapa tingginya Islam dan betapa kebudayaan akan berkembang
luar biasa bila dalam arahan Islam sebagaimana nampak pada peradaban Islam di
masa lampau. Di akhir pemaparannya, Natsir menyeru kepada pemuda Islam;
"Bilakah kembalinya masa yang demikian, wahai pemuda Islam?!"
Kedua, Natsir
membahas tentang sosok beberapa cendekiawan Islam masa lampau seperti Ibnu
Maskawaih, Al Khawarizmi, Al Ghazali, Al Farabi dan Ibnu Sina. Diakhir
bahasannya, Natsir katakan: "Mereka berpulang meninggalkan pusaka yang
sedang menantikan ahli-ahli waris yang lebih dekat, yakni; Pemuda-pemuda Islam
yang menaruh himmah dan bercita-cita tinggi!". Di bagian lain Natsir menyeru:
"Wahai ahli waris, mengapa pusaka dibiarkan hanyut?". Zaman keemasaan
Islam dipaparkan panjang lebar oleh Natsir. Kemudian Natsir tutup dengan
pernyataan: "Dikemukakan, sekedar memanggil minat dan perhatian pemuda
Islam, angkatan baru!". (M. Natsir, Capita Selecta 1)
Besar sekali
perhatian Natsir kepada pemuda Islam. Betapa besar harapan dan mimpinya untuk
pemuda Islam agar bangkit dan melanjutkan kegemilangan peradaban Islam.
Ketiga, Harian
Antara bertanggal 4-8-1952 menulis laporan tentang kunjungan Natsir ke Bandung
dalam agenda rapat umum Partai Masyumi. Di Bandung, Natsir mementingkan diri
untuk berbincang dengan para pemuda. Natsir sampaikan perbandingan antara para
pemuda di masa lalu dan pemuda di masa kini. Natsir mengibaratkan pemuda di
masa Hindia Belanda seperti buah muda yang matang karena diperam. Hal itu
terjadi karena tekanan-tekanan dan karena dihadapkan kepada masalah-masalah di
luar sekolah. Tapi hal itu menurut Natsir, menumbuhkan kepribadian para pemuda
itu dalam usahanya mencapai cita-cita yang penuh rintangan.
Sementara saat
ini, kata Natsir, banyak jalan sudah dilapangkan oleh para pemuda masa lalu
sehingga energi bisa digunakan lebih efektif. Namun Natsir memperingatkan,
bahwa keadaan yang serba mudah ini mengandung bahaya. Keadaan yang tanpa rintangan
ini bisa melenakan jiwa pemuda yang hanya mau enteng untung saja. Natsir
menganjurkan pemuda berusaha sendiri. Jangan terpikat oleh kemilau kemewahan
yang mempesona orang dari luar sementara kosong dalamnya.
Natsir meminta
agar pemuda tidak berat ke atas sehingga terpisah dari rakyat. Pemuda harus
turun ke masyarakat, ke kampung-kampung mendengarkan detik hati rakyat yang
tidak bersuara. Pelajarilah 'buku masyarakat' dengan sebaiknya, kata Natsir.
Karena 'buku masyarakat' adalah gudang ilmu yang tidak akan pernah selesai
dibaca.
Keempat, di
Majalah Prisma, no.7, 17 Agustus 1978, Natsir menyatakan dapat memahami bahwa
masih banyak persoalan yang akan dihadapi generasi muda saat ini. Yang terberat
adalah soal mewujudkan keadilan sosial. Apalagi jika jarak yang melebar antara
si kaya dan si miskin tidak bisa lagi dijembatani. Sementara soal ideologi,
Natsir anggap tidak terlalu membahayakan. Karena menurutnya, pada dasarnya
bangsa Indonesia menyukai kompromi dan konsensus.
Natsir juga
tidak risau terkait persiapan generasi muda memikul tugas sejarah di masa
depan. Karena bagi Natsir, sejarah tidak akan bertanya apa kita siap atau
tidak. Saya masih optimis, tegas Natsir, bagaimanapun generasi muda sekarang
akan bisa menjawab tantangan zamannya sendiri.
Kelima, dalam
tulisannya berjudul "Kepada Pemuda Islam!". Natsir menyeru kepada
anak-anak muda Islam:
"Saudara!
Saudara masih bertanya, what next? Sekarang apa sesudah kemerdekaan politik
tercapai? Masih banyak saudara, masih bertimbun keganjilan dan ketimpangan,
yang menghendaki perubahan. Itulah cermin masyarakat kita. Di situ terbentang
lapangan perjuangan. Lapangan perjuangan bagi saudara! Jangan ditunggu orang
lain. Taruhkan inisiatif dan enthousiasme saudara ke dalamnya. Lepaskan
masyarakat saudara dari tindasan kebodohan, kemalasan dan kemelaratan. Letakkan
diri saudara di tengah-tengah perjuangan itu!" (M. Natsir, Capita Selecta
2, 454)