Umat Islam Memerdekakan Negeri Ini
![]() |
| Gambar Hanya Ilustrasi |
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Al-A’raf : 96)
Setiap tanggal
10 November rakyat Indonesia memperingatinya sebagai Hari Pahlawan Nasional. 10
November sebuah tanggal yang monumental buah perjuangan arek-arek Suroboyo di
bawah pimpinan pejuang besar kemerdekaan, Bung Tomo. Namun naas, karena sejarah
milik penguasa. Nasib Bung Tomo tiada ubahnya bak pesakitan dan pengkhianat
bangsa. Ia di penjara oleh rezim yang berkuasa. Namun pula akhir sejarah Allah
yang menentukan, Bung Karno kena tulah dari ucapannya yang terkenal
"Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai jasa para
pahlawannya". Ia terjungkal dari kekuasaan dengan cara yang mengenaskan
dan jadi pesakitan yang sebenarnya. Hal yang sama terjadi kepada penggantinya,
Soeharto.
Bung Tomo Jum'at
7 November lalu akhirnya ditetapkan oleh pemerintah sebagai pahlawan Nasional
bersama Dr. Mohammad Natsir dan KH. Abdul Halim. Ketiga Mujahid pejuang
kemerdekaan ini-seandainya masih hidup-mungkin akan bergumam "ah, malu
aku. Hanya seperti inikah kemampuan pelanjutku dalam menghargai perjuangan yang
berdarah-darah itu?" Bukan berarti mereka mengharapkan penghargaan.
Terlintas di pikiran pun tentunya tidak.
Dr. Mohammad
Natsir seorang Ulama besar yang diakui dunia, da'i, pendidik dan politisi ulung
yang mempersatukan negara-negara boneka buatan kolonial Belanda dengan mosinya
yang terkenal, Mosi Integral Natsir menjadi Negara Kesatuan republik Indonesia
(NKRI). Mosi yang disebut-sebut sebagai proklamasi kemerdekaan Indonesia yang
kedua setelah proklamasi 17 Agustus 1945. Akhirnya dipercaya menjadi Perdana
Menteri pertama Negara Kesatuan Republik Indonesia. Beliau pernah menjabat
sebagai Menteri Penerangan di tiga kabinet yang berbeda masa Soekarno. Dimana
menurut pengakuan Bung Hatta, Bung Karno tidak pernah mau menandatangani
surat-surat pemerintah jika tidak disusun oleh Natsir.
KH. Abdul Halim
Ulama kharismatik asal Majalengka Jawa Barat – penulis sendiri lahir dan besar
di kota yang sama merasakan kharisma beliau yang begitu kuat pada masyarakat
setempat – melahirkan banyak para pejuang kemerdekaan dengan metode
pendidikannya yang khas.
Mari kita
kembali ke awal. Lalu apa pentingnya gelar pahlawan Nasional tersebut? Buat
mereka bertiga tentu sangat tidak penting.Karena mereka adalah pahlawan dalam
arti yang sebenarnya yakni yang berjuang ikhlas hanya berharap pahala dari
Allah swt (pahala-wan). Karena faktor keikhlasan itulah setelah kemerdekaan
diraih para kyai, ulama dan santri itu kembali melanjutkan amal mereka di
sawah, lading, pesantren dan lain-lain. Sementara pemerintahan akhirnya diisi
oleh mereka yang tidak ikut berjuang atau ikut berjuang tapi tidak cinta Islam.
Para pejuang
kemerdekaan berjuang atas motivasi mempertahankan aqidah dan memperjuangkan
agama Allah di bumi ini. Maka ketika adanya penjajahan yang otomatis akan
merusak aqidah, umat Islam bangkit melawan. Jelas benar bahwa pejuang
kemerdekaan seluruhnya adalah kaum muslimin tidak yang lain. Hanya umat
Islamlah yang memerdekakan Negeri ini dari penjajahan. Karena buat kaum
muslimin saat itu perjuangan kemerdekaan adalah jihad fi sabilillah. Mereka
sangat menyadari bahwa akan tetapi hidup di sisi Allah sekalipun syahid di
medan perang. Allah swt berfirman,
“Janganlah
kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan
mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki. mereka dalam keadaan
gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka
bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum
menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula)
mereka bersedih hati." (QS. Ali Imran: 169-170)
Maka tidak lain
dan tidak bukan, Islamlah yang memerdekakan negeri ini. Hampir seluruh pejuang
kemerdekaan beragama Islam. Menurut penelitian Guru Besar Sejarah UNPAD Prof.
Dr. Ahmad Mansur Suryanegara; tokoh pejuang kemerdekaan asal wilayah timur
Nusantara Thomas Mattulesy ternyata bernama Muhammad atau Ahmad Lesy seorang
muslim. Kenapa demikian, karena wilayah timur Indonesia dari dulu sampai saat ini
komposisi muslim dan non-muslim seimbang bahkan pada awalnya hanya ada Islam.
Tidak benar jika dikatakan bahwa wilayah timur mayoritas non muslim. Bahkan
Islamlah yang pertama kali menapakkan kaki di wilayah tersebut. Kata ‘Maluku’
sendiri diambil dari bahasa muluk (Raja-Raja), wilayah maluku saat ini dan
Papua awalnya dikuasai dan diperintah oleh para Raja Islam (Sultan) sebelum
akhirnya datang misionaris-misionaris Kristen yang mempertahankan adat dan
tradisi jahiliyyah di wilayah tersebut. Sehingga upacara-upacara kemusyrikan
dan pakaian yang tidak syar’i dipertahankan dengan dalih pelestarian budaya.
Tragisnya
ternyata hal itu dilanjutkan secara legal oleh pemerintah kita hingga detik
ini. Padahal, menurut para Da’i Dewan Da’wah yang bertugas di sana termasuk
Ustadz Fadhlan Garamatan seorang Da’i putra asli daerah, warga
Papua-contohnya-sebenarnya malu dan tidak ingin lagi memakai koteka. Namun demi
pelestarian budaya daerah, pemerintah tetap mantap dalam pembodohan struktural
terhadap rakyatnya tersebut.
Ustadz Fadhlan
menggambarkan betapa warga pedalaman Papua begitu senang bisa mandi menggunakan
sabun sebelum mereka di syahadat-kan. Sebelumnya mereka mandi dengan melumuri
badannya dengan minyak babi atas petunjuk para misionaris Kristen.
Raja
Sisingamangaraja juga adalah muslim yang taat. Menurut Ahmad Mansur
Suryanegara, tidak benar kalau raja Sisinga Mangaraja adalah penganut agama
leluhur tapi dia adalah seorang muslim yang taat. Termasuk para pejuang
Nasional yang kita kenal, mereka semuanya muslim. Pangeran Diponegoro adalah
Ustadznya Istana dan para penasihatnya adalah para Kyai. Imam Bonjol, Cut Nyak
Dien dan lain-lain semuanya adalah para ulama dan santri.
Begitu besarnya
peran umat Islam dalam perjuangan kemerdekaan, dalam bukunya ‘Menemukan
Sejarah’ Ahmad Mansur Suryanegara menuliskan beberapa data di antaranya :
1. Pengakuan
George Mc Turner Kahin seorang Indonesianis (Nationalism and revolution
Indonesia) bahwa ada 3 faktor terpenting yang mempengaruhi terwujudnya
integritas Nasional; 1) Agama Islam dianut mayoritas rakyat Indonesia, 2) Agama
Islam tidak hanya mengajari berjama’ah, tapi juga menanamkan gerakan anti
penjajah, 3) Islam menjadikan bahasa Melayu sebagai senjata pembangkit kejiwaan
yang sangat ampuh dalam melahirkan aspirasi perjuangan Nasionalnya.
2. Bahwa
pelopor gerakan Nasional bukan Budi Utomo tetapi Syarekat Islam (SI) yang
memasyarakatkan istilah Nasional dan bahasa Melayu ke seluruh Nusantara,
anggotanya beragam dan terbuka. Sementara Budi Utomo; menolak persatuan
Indonesia, memakai bahasa Jawa dan Belanda dalam pergaulannya, bersikap eklusif
di luar pergerakan Nasional dan keanggotaannya hanya untuk kalangan Priyayi
(Bangsawan/ningrat) saja.
3. Pelopor
pembaharuan sistem pendidikan Nasional adalah Muhammadiyah (1912) 10 tahun
lebih awal dari taman Siswa (1922). Muhammadiyah sudah memakai bahasa Melayu
sementara Taman Siswa berbahasa Jawa dan Belanda.
4. Sumpah
Pemuda 28 Oktober 1928 dipelopori oleh para pemuda Islam atas prakarsa para
ulama dalam rapat Nasional PSII di Kediri pada 27-30 September 1928. Dan masih
banyak lagi-lagi fakta-fakta lain yang belum terungkap.
Pada hakikatnya
dan seharusnya Negeri ini adalah Negeri Islam. Karena salah satu sumber hukum
positif di Negeri ini adalah Syariat Islam. Dicantumkannya Piagam Jakarta dalam
Dekrit Presiden 5 Juli 1959 sebagai menjiwai UUD 1945 oleh Soekarno menjadi
dasar sahih keharusan Negeri ini diatur oleh syari’at Islam selain faktor
histories yang sudak dikemukakan di atas. Maka sebelumnya, saat ini dan
seterusnya seluruh produk perundang-undangan yang lahir harus mengandung
nilai-nilai syari’at.
Dengan dasar
tersebut sungguh tidak logis dan inkonstitusional jika ada sebagian kalangan
yang menggugat perda-perda bernuansa Syariah termasuk UU Pornografi yang juga
sebenarnya belum murni syari’ah. Tanpa malu-malu mereka bisanya hanya mengancam
akan berpisah dari NKRI, seolah-olah NKRI membutuhkan mereka. Mereka harus
berpisah diri-diri mereka saja, karena wilayah timur atau wilayah manapun di
Negeri ini adalah milik umat Islam.
Negeri ini
lahir atas buah karya keikhlasan para mujahid pejuang kemerdekaan atas Berkat
Rahmat Allah. Sebagaimana tercantum dengan tegas dalam Pembukaan UUD 1945 “Atas
Berkat Rahmat Allah Swt.” Karena jika tidak atas Berkat Rahmat Allah swt tidak
mungkin bambu runcing dapat menang melawan senjata-senjata otomatis penjajah.
Para muarrikhin
(sejarawan) mengatakan “sejarah selalu milik penguasa”. Perjuangan seorang
Mohammad Natsir dan kawan-kawan yang berjasa besar dalam perjuangan kemerdekaan
dan mempersatukan Indonesia dalam NKRI banyak tidak diketahui oleh para
pewarisnya (rakyat Indonesia), karena Natsir memperjuangkan Islam sebagai dasar
Negara sementara para penguasa tidak menginginkannya.
Sebagian besar
dari kita atau anak-anak kita di sekolah tidak mengenal sosok para mujahid
tersebut. Dengan dianugerahkannya gelar Pahlawan Nasional maka sudah menjadi
keharusan materi sejarah diluruskan di buku-buku sejarah anak-anak kita. Hal
yang sebenarnya paling ditakuti oleh penguasa dimana pemikiran dan perjuangan
sosok-sosok itu dibaca dan akan membangkitkan ruh jihad di dada-dada generasi
Islam.
