BERKACA DARI IBRAHIM DAN ISMAIL; PENDIDIKAN KARAKTER HARUSNYA UNTUK ORANG TUA DAN GURU
Oleh: Wildan Hasan
Tak terbayangkan seandainya Ibrahim adalah seorang pembohong, pengkhianat, pengingkar janji, koruptor, malas beribadah dan suka bermaksiat kepada Allah. Jika kiranya demikian ayahanda Ismail, apakah Ismail muda akan mandah saja disembelih?
Ismail saat itu sudah berusia belasan tahun. Usia akil baligh. Sudah bisa berpikir kritis apalagi telah dibiasakan seperti itu oleh ayahandanya. Seorang yang sudah mampu berpikir kritis tidak mungkin begitu saja mengiyakan perintah yang mengancam nyawanya.
Tradisi berpikir kritis itu tergambar dalam dialog Ibrahim dan Ismail dalam surah Al Shaffat ayat 102, "Hai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah, bagaimana pendapatmu?" tanya Ibrahim.
"Wahai Ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar". Jawab Ismail.
Kisah ini sangat berharga bagi kita. Kisah kekuatan ketaatan dan pikiran ayah dan anak. Kisah tentang sebuah keluarga teladan.
Dalam banyak hal, Ismail mendapatkan banyak teladan dari Ibrahim. Seorang ayah yang mementingkan kepentingan agama dan umat semata. Seorang yang sudah selesai dengan dirinya. Pribadi yang tidak meragukan siapapun untuk menyerahkan loyalitas dan kepercayaan kepadanya.
Jika tak melihat teladan Ibrahim, dengan pikiran kritisnya tentu Ismail bisa mengajukan gugatan, "Memangnya apa yang telah ayah lakukan untuk Tuhan sehingga mau mengorbankan anak yang telah lama ayah idamkan ini?"
Pada titik inilah kisah ayah dan anak ini mendapatkan tempat dalam konteks bangsa kita. Republik Indonesia membutuhkan generasi yang mau berkorban, mau melepas kepentingan pribadi demi bangsa dan negara. Berkorban demi tujuan yang lebih besar dan mulia.
Namun untuk mencetak generasi seperti itu diperlukan teladan dari orang tua. Sebagaimana Ibrahim yang menjadi teladan ideal bagi Ismail. Pula Ibrahim membekali anaknya dengan iman, takwa dan kesalehan, setelah dirinya sendiri menjadi seorang yang beriman, bertakwa dan saleh.
Pelajaran penting bagi kita, bila berharap keluarga seperti keluarga Ibrahim dan anak-anak seperti Ismail, memberikan keteladanan adalah keniscayaan. Pendidikan kita di Indonesia, sekolah seolah tempat paling ideal untuk mendidik anak. Yang kita lupa, sebenarnya, pendidik terpenting dan utama adalah orang tua. Namun, ironisnya, justru orang tualah pendidik yang tak tersiapkan.
Mestinya pendidikan karakter itu untuk orang tua dan Guru, bukan (hanya) untuk anak-anak. Orang tua dan Guru mempraktikannya dan anak-anak belajar dari mereka. Jangan harap anak bangun subuh jika orang tuanya tak bangun subuh, dan seterusnya.
Dalam konteks bernegara, kita mendapatkan teladan dari para pendiri bangsa. Soekarno, Hatta, Agus Salim, Syahrir, Natsir, Roem, Wahid Hasyim, Sudirman dan lain-lain. Soekarno menawarkan karya buku terjemahannya kepada tuan Hassan agar bisa diterbitkan dan honornya bisa untuk makan anak dan istri. Mohammad Hatta seorang Wakil Presiden pernah mengidamkan membeli sepasang sepatu yang sampai akhir hanyatnya tak terbeli. Syahrir sampai menjual mesin jahit satu-satunya agar hidup keluarganya hari itu bisa terus berlanjut. Natsir seorang menteri yang jasnya bertambal dan kemeja satu-satunya bernoda tinta. Lain lagi Agus Salim, Guru bangsa yang selama perjuangan berpindah-pindah rumah kontrakan dari satu petak ke petak lain.
Dalam posisi terpelajar di tengah kebodohan rakyat, mereka memiliki seluruh persyaratan untuk hidup tenteram dan sejahtera. Tetapi mereka memilih jalan sulit. Mereka pilih jalan perjuangan dan pengorbanan demi bangsa dan negara. 'Melupakan' kepentingan diri dan keluarganya.
Hari-hari ini kita mereguk perjuangan dan pengorbanan para pendiri republik. Maka, bila hari ini kita hanya memikirkan diri sendiri, memikirkan kepentingan dirinya, keluarganya, kelompoknya, partainya di tengah musibah yang bertubi-tubi menimpa bangsa ini, maka tradisi berkorban para pendiri republik ini akan berhenti seketika. Negeri ini butuh keteladanan. Teladan terutama dari para pemimpin. Pemimpin yang memiliki semua syarat dan fasilitas untuk lebih baik dari rakyatnya.
Allahu a'lam
