Postingan

Menampilkan postingan dengan label Pendidikan

Kemenag Akan Hapus Materi Pelajaran Perang dalam Pelajaran Agama Islam

Gambar
Gambar Hanya Ilustrasi Dalam artikel tersebut diungkap, Kementerian Agama (Kemenag) disebut akan menghapus beberapa kurikulum pembelajaran, yaitu di antaranya Perang Uhud dan Badar. Dijelaskan, alasan penghapusan kurikulum pembelajaran tersebut oleh Kemenag karena umat Islam selalu dihubungkan dengan perang atau kekerasan. Berikut narasinya: Terkait wacana penghapusan atau review materi perang di kurikulum Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) oleh Direktur Kurikulum Sarana Prasarana Kesiswaan dan Kelembagaan (KSKK) Madrasah Kementerian Agama, Ketua MIUMI Kota Bekasi, Wildan Hasan, yang juga Anggota Dewan Tafkir PP Persis menyesalkan rencana Kemenag tersebut. “Baik buruknya peristiwa di masa lampau adalah bagian dari fakta sejarah. Sejarah itu tidak melulu soal kebaikan dan kejayaan tapi juga keburukan dan keterpurukan. Kita harus jujur terhadap sejarah. Sejarah terjadi bukan untuk ditutup tutupi tapi untuk dipelajari dan diambil ibrohnya agar kebaikan dan kejayaan masa lampau bisa te...

Tokoh Pendidikan Nasional Terbesar

Gambar
Gambar Hanya Ilustrasi   “Tokoh Pendidikan Nasional terbesar di Indonesia adalah Ki Hajar Dewantoro, sehingga salah satu ajarannya dijadikan sebagai semboyan pendidikan nasional, yaitu Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, dan Tut Wuri Handayani; dan hari lahirnya (2 Mei) diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional.” Benarkah? Fakta Ki Hajar Dewantara dan Boedi Oetomo: Boedi Oetomo menolak kemerdekaan Indonesia. Boedi Oetomo memakai bahasa Jawa dan Belanda. Boedi Oetomo bersikap eklusif, diluar perjuangan pergerakan nasional. Boedi Oetomo hanya untuk kalangan ningrat Brosur milik Boedi Oetomo, Djawa Hisworo, selalu menyerukan caci maki terhadap Rasulullah dan ajaran Islam. Tidak menghendaki nasionalisme, tapi menghadirkan jawanisme. Menolak usulan KH. Ahmad Dahlan untuk mengadakan pengajian keislaman. Ki Hajar Dewantara tidak simpati terhadap Islam. Terbukti saat KH Ahmad Dahlan mengusulkan ada pengajian Islam di Boedi Oetomo, dia menolaknya. Ki Hajar Dewantara mem...

Ruh Intiqod: Filosofi Pendidikan M. Natsir

Gambar
Gambar Hanya Ilustrasi dari nuun.id Oleh: Wildan Hasan | Penulis Buku Perang Panjang Apabila kita mencermati tanda-tanda zaman maka kita mendapati bahwa saat ini kita berada di akhir zaman. Fase yang dekat dengan saat semua amal diperhitungkan lalu dengannya kita mendapatkan rahmat Allah di Surga-Nya atau azab Allah di Neraka-Nya. Apa yang harus kita lakukan di masa seperti ini? Masih pentingkah kita menyiapkan generasi penerus? Apakah sudah terlambat dan tidak ada waktu lagi? Tentu saja penting dan masih ada waktu. Selain karena itu adalah tugas dan amanah kehidupan, juga karena kita tidak tahu kapan kiamatnya akan datang. Sehingga menyiapkan generasi tidak terbatasi oleh masa apapun meski itu adalah masa akhir zaman. Mari kita perhatikan hadits yang diriwayatkan oleh Anas Radhiyallohu ‘Anhu dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Salam  “Sekiranya hari kiamat hendak terjadi, sedangkan di tangan salah seorang di antara kalian ada bibit kurma maka apabila dia mampu menanamnya sebelu...

Kejayaan Pendidikan Islam

Gambar
Gambar Hanya Ilustrasi Dari Unsplash.com Oleh: Wildan Hasan | Penulis Buku Perang Panjang Kejayaan pendidikan Islam di masa silam, jelas tidak gratisan juga. Bahkan mahal. Tapi, biaya tinggi penyelenggaraan pendidikan bermutu tidak dibebankan kepada masyarakat. Negara lah yang bertanggung jawab. Menurut Abdurrahman al-Maliki dalam kitab As-Siyasah Al-Iqtishadiyah Al-Mutsla (1963), Negara berkewajiban menjamin kebutuhan pokok masyarakat akan pendidikan ,kesehatan dan keamanan. Ini mengacu kepada wasiat Rasulullah SAW yang diperkuat oleh ijma’ para Sahabat: “Imam adalah bagaikan penggembala dan dialah yang bertanggung jawab atas gembalaannya itu.” (HR. Muslim)  Seluruh pembiayaan pendidikan, baik menyangkut gaji para guru dan dosen, maupun menyangkut infrastruktur serta sarana dan prasana pendidikan, sepenuhnya menjadi kewajiban Negara alias gratis (Usus Al-Ta’lim Al-Manhaji: 12). Rasulullah misalnya, setelah memenangi perang Badar, mempekerjakan sebagian tawanan untuk mengajari bac...

Al-Ghazali dan Perang Salib

Gambar
Gambar Hanya Ilustrasi Dari unsplash.com Oleh: Wildan Hasan | Penulis Buku Perang Panjang Hujjatul Islam Imam al-Ghazali Rahimahullahu ta’ala (450/1058-505/1111) yang hidup semasa perang Salib menyusun kitab Ihya ‘Ulumuddin. Beliau membuka kitabnya dengan “kitabul ‘Ilmi”. Perang Salib fase awal betul-betul menghancurkan peradaban Islam waktu itu. Umat Islam terkejut akan kekalahan tersebut dan alangkah sulitnya untuk bangkit dari kekalahan. Kenapa bisa kalah setelah 800 tahun digjaya?  Ternyata faktor utama kekalahan bukan karena jumlah yang sedikit, kekayaan yang minim dan persenjataan yang kadaluarsa. Tetapi moral dan spiritual yang hangus tergerus jaman dan kemewahan dunia. Penyakit wahn cinta dunia takut mati menghinggapi hampir secara permanen individu-individu muslim saat itu. Umat meninggalkan ‘Ulumuddin (ilmu-ilmu agama/al-Qur’an dan as-Sunnah) yang selama ini telah menjadi penopang kejayaan mereka.  Al-Ghazali mampu melihat persoalan waktu itu secara menyeluruh b...

Pendidikan Islam Integral

Gambar
Gambar Hanya Ilustrasi dari unsplash.com Oleh: Wildan Hasan | Penulis Buku Perang Panjang Menurut Dr. Hasan Langgulung (1995) pendidikan Islam mempunyai dua maksud; Yaitu pendidikan Islam umum dan pendidikan Islam khusus. Pendidikan Islam umum ialah pendidikan yang diberikan kepada orang Islam dalam semua keadaan seperti di sekolah, rumah, masjid, kantin, tempat bermain, kendaraan. Saat mandi, makan, minum, bermain, tidur, bekerja dan lain sebagainya. Termasuk juga di bidang politik, hukum, budaya, sosial, kedokteran, perdagangan, militer dan lain sebagainya. Sedangkan pendidikan Islam khusus ialah mata pelajaran sekolah, yaitu Tauhid, tafsir, hadits, akhlak dan lain sebagainya.  Maka bila disebutkan pendidikan Islam, bukan hanya mata pelajaran agama di sekolah. Tetapi memiliki arti luas, yaitu segala usaha mendidik orang Islam menjadi mu’min dan muttaqin. Pendidikan seperti ini harus dilakukan oleh setiap individu muslim secara sinergis dalam konsep amar ma’ruf dan nahyi munkar. ...

Ilmu dan Pendidikan Kontemporer

Gambar
Gambar Hanya Ilustrasi Dari pixabay.com Oleh: Wildan Hasan | Penulis Buku Perang Panjang Problem pendidikan saat ini adalah terpolarisasinya ilmu ke dalam dua kubu, ilmu-ilmu umum dan agama. Hal itu kemudian menyebabkan terbaginya institusi pendidikan menjadi dua kubu pula; di bawah Kementerian Agama (KEMENAG) dan di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (KEMENDIKBUD). Pendidikan di bawah KEMENAG seperti, Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTS), Madrasah Aliyah (MA) dan Perguruan Tinggi Islam (PTI). Sedangkan di bawah KEMENDIKBUD seperti, Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Perguruan Tinggi Umum (PTU).  Munculnya upaya-upaya penyatuan antar keduanya sudah lama muncul. Sebagai misal munculnya Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT), Sekolah Menengah Islam Terpadu (SMPIT), Sekolah Menengah Atas Islam Terpadu (SMAIT) dan ditingkat PTN ada Universitas Islam Negeri (UIN) dan lain sebagainya adalah buah dari kegelisahan b...

Keutamaan Ilmu

Gambar
Gambar Hanya Ilsutrasi Dari Pixabay.com Oleh: Wildan Hasan | Penulis Buku Perang Panjang Sungguh Allah telah memuji ilmu dan pemiliknya serta menganjurkan para hamba-Nya agar berbekal dengan ilmu, di antara keutamaan ilmu adalah : 1. Allah mengangkat derajat ahli ilmu “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”(QS. Al-Mujaadilah: 11) 2. Orang yang bodoh dan berilmu tidak sama Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az-Zumar: 9) “ 3. Persaksian Allah untuk orang yang berilmu “Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). tak ada Tuhan melainkan dia (yang berhak disembah), yang Maha P...

Ilmu Menurut Para Ulama

Gambar
Gambar Hanya Ilustrasi Dari Unsplash Oleh: Wildan Hasan | Penulis Buku Perang Panjang Wajib bagi setiap muslim untuk menuntut ilmu. Ilmu bila dimutlakkan dan datang nash-nash yang menjelaskan pujian dan keutamaannya, maka ilmu yang dimaksud adalah ilmu syar’i. Imam asy-Syafi’i Rahimahullahu ta’ala berkata, “Tidak ada satupun yang lebih utama setelah menunaikan kewajiban selain menuntut ilmu.”  Berkata Imam Ahmad Rahimahullahu ta’ala, “Manusia lebih butuh ilmu daripada makan dan minum, karena seseorang butuh makan dan minum sekali atau dua kali dalam sehari, tetapi kebutuhannya terhadap ilmu sepanjang hayatnya.”  Berkata al-Hafidz Ibnu Hajar Rahimahullahu ta’ala: “Yang dimaksud dengan ilmu adalah ilmu syar’i. Ilmu yang berfaidah untuk mengetahui kewajiban seorang hamba berupa perkara agama, baik dalam ibadah maupun pergaulannya sehari-hari. Ilmu yang berbicara tentang Allah, mensucikan-Nya dari segala kekurangan, ilmu yang demikian berkisar pada ilmu tafsir, hadits dan fiqih.”...

Ilmu dan Hijrah

Gambar
Gambar Hanya Ilustrasi Oleh: Wildan Hasan | Penulis Buku Risalah Perang Panjang Saat ini kita berada di tahun Islam 1441 H. Sebuah kalender umat Islam yang lahir dari momentum suksesnya hijrah Rasulullah saw dan para Sahabat dari Makkah al-Mukarramah ke Madinah al-Munawwarah. Kesuksesan hijrah Rasulullah Saw tidak lepas dari faktor ilmu. Ilmu menjadi faktor penting bukan hanya untuk kesuksesan hijrah Rasulullah, tetapi juga hijrah-hijrah dalam bentuk yang lain. Hijrah dari syirik menuju tauhid, bid’ah menuju sunnah, mafsadat menuju masalahat, dan lain sebagainya.  Imam al-Bukhari menyebutkan bahwa kewajiban seorang muslim sebelum beramal adalah berilmu “al-Ilmu qobla al-Qaul wa al-‘Amal.” Hal inilah yang kemudian tersirat dalam surah al-‘Alaq ayat pertama “Iqra’ bismi Rabbika al-ladzi Kholaq” bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Sebagai wahyu pertama yang diturunkan, sangat jelas bahwa kewajiban pertama dan paling utama umat Islam sebelum berkata dan beramal adalah berilm...

Zona Hitam Pendidikan

Gambar
  "Ayo kembali ke Sekolah" Wildan Hasan (Orang Tua Murid) Telah dua tahun kita hidup bersama Covid-19. Semua aktifitas kehidupan berubah drastis. Interaksi dan transaksi memadati dunia maya karena tidak boleh ada pertemuan fisik khawatir Covid menerpa. Kita dipaksa segera akrab dengan era disrupsi meski sama sekali belum siap. Hasilnya seperti reformasi 98, prematur. Serba nanggung, tidak jelas, tidak tepat dan minim hasil.  Aspek paling menderita akibat Covid adalah dunia pendidikan. Meskipun pendidikan tidak harus melulu melalui institusi bernama sekolah, harus diakui sekolah belum tergeser sebagai wasilah mainstream yang dipercaya oleh rakyat untuk mendapatkan pendidikan. Covid memang memberi peringatan dan mengajarkan kepada kita bahwa pendidikan bisa didapatkan dimana saja dan kapan saja. Mengingatkan bahwa orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya. Banyak hikmah bisa kita ambil dari musibah pandemi ini. Akan tetapi realita menunjukkan kepada kita ...

BERKACA DARI IBRAHIM DAN ISMAIL; PENDIDIKAN KARAKTER HARUSNYA UNTUK ORANG TUA DAN GURU

Gambar
  Oleh: Wildan Hasan Tak terbayangkan seandainya Ibrahim adalah seorang pembohong, pengkhianat, pengingkar janji, koruptor, malas beribadah dan suka bermaksiat kepada Allah. Jika kiranya demikian ayahanda Ismail, apakah Ismail muda akan mandah saja disembelih? Ismail saat itu sudah berusia belasan tahun. Usia akil baligh. Sudah bisa berpikir kritis apalagi telah dibiasakan seperti itu oleh ayahandanya. Seorang yang sudah mampu berpikir kritis tidak mungkin begitu saja mengiyakan perintah yang mengancam nyawanya.  Tradisi berpikir kritis itu tergambar dalam dialog Ibrahim dan Ismail dalam surah Al Shaffat ayat 102, "Hai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah, bagaimana pendapatmu?" tanya Ibrahim. "Wahai Ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar" . Jawab Ismail. Kisah ini sangat berharga bagi kita. Kisah kekuatan ketaatan dan pikiran ayah dan anak. Kisah tentang s...