Dari HAMKA Untuk Sukmawati

Gambar Hanya Ilustrasi

Sejarah mencatat, HAMKA pernah difitnah dan dipenjarakan oleh bapaknya Sukmawati tanpa kesalahan apapun, kecuali karena HAMKA bersikap kritis terhadap pemerintahan yang diktator dan otoriter saat itu. Di dalam Penjara, HAMKA justru dapat menyelesaikan penulisan Tafsir Al Azharnya yang terkenal.

Bapaknya Sukmawati kemudian jatuh dari singgasana kekuasaannya. Bahwa setiap kedzaliman pasti akan jatuh dan hancur cepat atau lambat. Menjelang wafatnya yang merana, bapaknya Sukmawati memohon dengan sangat agar HAMKA berkenan mengimami shalat jenazahnya. HAMKA dengan mudah dan lapang mengabulkannya.

Tidak pendendam. Begitulah memang para Ulama dan tokoh Islam kala itu. HAMKA sebagaimana Mohammad Natsir sahabatnya, dua negarawan besar, tulus berjuang tanpa pamrih. Natsir dari dalam Penjara memberikan surat kecil untuk pendiri Malasyia Tengku Abdul Rahman agar hubungan Indonesia-Malasyia kembali baik. Apapun demi kebaikan bangsa, diupayakannya sekuat tenaga. Meskipun sebelumnya didzalimi luar biasa.

HAMKA, dalam bukunya "Ghirah; Dan Tantangan Terhadap Islam," menulis tentang cemburu (ghirah) karena agama. HAMKA menyatakan, agama Islam mengajarkan toleransi dan menjalankan ayat "La ikraha fid Dien." Oleh karena itu menurutnya, Islam masuk ke Indonesia tanpa kekerasan. Hilangnya pengaruh agama sebelumnya di Indonesia bukan karena desakan senjata, tapi karena ajaran Islam mudah diterima oleh masyarakat dengan ajaran persaudaraan dan persamaan derajatnya.

HAMKA menjelaskan, setelah masuknya penjajahan dengan membawa dan menyebarkan agama Kristen, umat Islam berlapang dada dan dapat hidup rukun dengan umat Kristen. Tapi, tegas HAMKA, meskipun demikian Islam jangan disinggung dan dihina. Sudah terang, kata HAMKA, waktu kekuasaan ada di tangan Belanda, yang sudah terang pula ada di tangan Kristen. Orang Indonesia yang memeluk agama Kristen jadi merasa lebih tinggi dan memang diperlakukan lebih tinggi oleh pemerintah kolonial.

Maka HAMKA berteriak lantang, "Merasa tinggilah engkau! Tapi agama kami jangan dihina. Jangan disinggung perasaan kami. Kalau kami tersinggung, kami tidak tahu lagi apa yang musti kami kerjakan. Kami akan lupa kelemahan kami. Kami lupa tak bersenjata. Kami mau tuan mati dan tuan boleh tembak kami!"

Tuanku Imam Bonjol, tulis HAMKA, hendak mengundurkan diri dari perang. Tapi setelah melihat Masjid dipakai menjadi Kandang Kuda, beliau membatalkan pengunduran dirinya. Beliau menghunus pedangnya. Walaupun beliau sudah tua, tidak dipikirnya lagi akan kalah atau menang, akan hidup atau mati. Itulah cemburu karena agama. Tidak melawan itulah mati, sergah HAMKA.

Menurut HAMKA, saat Belanda berkuasa ada propaganda bahwa orang Islam itu fanatik. Diponegoro yang hendak mendirikan Kerajaan Islam di tanah Jawa dituduh fanatik. Perlawanan Imam Bonjol dituduh fanatik. Perjuangan Cik Ditiro dan rakyat Aceh dituduh fanatik. Bahkan selama umat Islam belum mau menerima penjajahan, selama itu pula mereka dituduh fanatik.

Barulah, kata HAMKA, akan hilang cap fanatik itu bila ghirah agamanya hilang. Cap fanatik akan hilang kalau umat Islam sudah tidak segan lagi makan babi, minum arak dan alkohol terang-terangan.

"Kalau dia duduk bersama-sama Belanda atau yang terdidik cara Barat di waktu Maghrib, malu dia hendak sembahyang. Maka terpujilah dia sebagai orang yang 'luas faham dan toleran." Baru dipandang sebagai orang yang luas faham bila dia tidak datang ke Mesjid pada hari Jum'at. Padahal orang Belanda tetap ke Gereja pada hari Minggu. Dan dia dicap fanatik kalau di rumahnya masih ada tikar sembahyang. Namanya akan dipopulerkan dimana-mana sebagai orang Islam yang maju, yang luas faham, yang progressif, yang toleran kalau ia telah turut pula memburuk-burukkan (pen: Agamanya, Nabinya) Kyainya, Santrinya."

Proklamasi lahir menurut HAMKA, adalah buah dari Syaja'ah (keberanian), Wafaa (kesetiaan), dan Karam (kedermawanan) umat Islam. Menurutnya, oleh karena itu umat Islam harus sami'na wa 'atho'na, membela proklamasi, tanah air dan Pancasila yang diserukan oleh para Ulama dalam susunan barisan Sabilillah, Hizbullah dan angkatan Perang Sabil. Bagaimana jasa dan peran itu dapat dilupakan? Tanya HAMKA. Sementara kubur-kubur para Ulama, Jenderal Soedirman, Kyai Hasyim Asy'ari yang menggerakkan ribuan santrinya belum kering!

Mereka adalah para fanatik, yang mengerahkan ribuan santrinya kemudian hancur dibom Belanda. Tuan boleh menuduh umat Islam fanatik, kata HAMKA, tapi tuan harus membenarkan kata hati tuan sendiri bahwasanya fanatik umat Islam itulah modal yang sangat besar dalam kemerdekaan Indonesia. Agar tuan tahu itu bukanlah fanatik, itulah GHIRAH!

HAMKA menegaskan, kita tasamuh dan kita toleran. Tapi kalau kita masih tasamuh dan toleran padahal agama kita diejek, Nabi Muhammad dihinakan, Islam disebut agama impor, padahal tidak satu agama pun di Indonesia yang bukan impor, kecuali jika kembali makan kodok dan tikus! Maka jika kita diam saja itu bukan toleran lagi namanya, tapi dayyuts.

Jangan diam, lebih baik mati daripada hidup! Tegasnya

Postingan populer dari blog ini

Pendidikan Islam Integral

Al-Ghazali dan Perang Salib

Keprihatinan Seorang Natsir