Kenapa Membenturkan Wahyu dengan Ro’yu?

Gambar Hanya Ilustrasi


Memangnya ada masalah apa antara Wahyu (Kalamullah) dengan Ro’yu/akal (Ni'matun minallah)? Ko, dibentur-benturkan? Kenapa dipertentangkan? Bukankah keduanya juga dari Allah? Masalahnya apa? Karena keduanya dari Allah, mestinya disinergikan untuk maksimalisasi pemahaman terhadap Maqhashid Asy Syar’ah. Agar cinta dan kasih kita kepada Dienullah ini tidak salah jalan dan salah kaprah.

Barulah Wahyu dan Ro’yu kita pertentangkan, bila benar-benar bersimpang jalan. Dan tentu saja kita harus mendahulukan Wahyu. Karena Wahyu pasti benarnya, sementara Ro’yu, Allah ciptakan terbatas kemampuannya. Namun, hendaklah kita faham bahwa tidak semata-mata Allah ciptakan akal kecuali pasti ada manfaatnya. Robbana ma kholaqta hadza bathilan.

Ro’yu yang shahih berfungsi untuk memahami Wahyu secara benar. Bila bukan dengan Ro’yu, lalu dengan apa kita mempelajari dan memahami Wahyu? Hadirnya tafsir Al Qur'an, syarhul Hadits, Ilmu-ilmu Islam, ribuan kitab para ulama, bukankah lahir dari proses perenungan aqliyah para ulama? Kalau bukan dengan AKAL (biidznillah), dari mana itu semua lahir?

Marilah, mulai belajar berfikir sistematis, logis, kritis dan metodologis. Karena cara berfikir seperti ini yang diwariskan para ulama. Tanpa pula mengabaikan kewajiban untuk "Sami'na wa 'Atho'na." Kita menjadi saksi karya-karya monumental para ulama dalam beragam disiplin ilmu yang menawan, adalah wujud nyata dari proses berfikir mereka yang cemerlang.

Oleh karena itu, Wahyu itu logis dan rasional. Bagi saya tidak ada yang perlu dipertentangkan antara Wahyu dengan Ro’yu. Saat kita belum mampu memahami apa maksud dari sebuah ketetapan Syariat, kita mestilah tetap menjalankannya. Karena itulah logisnya. Logis? Ya! Karena kita memahami bahwa kemampuan akal terbatas. Namun dalam keterbatasan itu Allah menjanjikan berjuta hikmah di balik semua ketetapan-NYA. Terkait alam gaib, kaum sekuler mengatakannya irasional dan tak masuk akal. Sehingga dikatakannya, Alam gaib hanyalah khayalan orang Gila. Bagi mereka tidak ada hidup setelah mati. Setelah mati, selesai.

Bagi kita, alam gaib; Malaikat, Jin, Surga, Neraka, dan lainnya adalah fakta. Karena akal kita bukan akal sekuler tapi akal iman. Iman yang meniscayakan secara rasional bahwa kita percaya akan adanya Alam dan makhluk gaib. Metaphysic keberadaan Surga dan Neraka adalah rasional dan logis. Kenapa? Karena bila akal kita memaksakan diri dan tidak mencukupkan untuk percaya (Iman) kepada Sang Maha Kuasa terkait perkara-perkara gaib, maka kita akan gila. Segila gerombolan sekuler liberal itu.

Postingan populer dari blog ini

Pendidikan Islam Integral

Al-Ghazali dan Perang Salib

Keprihatinan Seorang Natsir