Tokoh Pendidikan Nasional Terbesar
![]() |
| Gambar Hanya Ilustrasi |
“Tokoh Pendidikan Nasional terbesar di Indonesia adalah Ki Hajar Dewantoro, sehingga salah satu ajarannya dijadikan sebagai semboyan pendidikan nasional, yaitu Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, dan Tut Wuri Handayani; dan hari lahirnya (2 Mei) diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional.” Benarkah?
Fakta Ki Hajar Dewantara
dan Boedi Oetomo: Boedi Oetomo menolak kemerdekaan Indonesia. Boedi Oetomo
memakai bahasa Jawa dan Belanda. Boedi Oetomo bersikap eklusif, diluar
perjuangan pergerakan nasional. Boedi Oetomo hanya untuk kalangan ningrat
Brosur milik
Boedi Oetomo, Djawa Hisworo, selalu menyerukan caci maki terhadap Rasulullah
dan ajaran Islam. Tidak menghendaki nasionalisme, tapi menghadirkan jawanisme.
Menolak usulan KH. Ahmad Dahlan untuk mengadakan pengajian keislaman.
Ki Hajar
Dewantara tidak simpati terhadap Islam. Terbukti saat KH Ahmad Dahlan
mengusulkan ada pengajian Islam di Boedi Oetomo, dia menolaknya. Ki Hajar
Dewantara membuat pendidikan moral budi pekerti sebagai pengganti pendidikan
agama. Inti ajarannya adalah menolak adanya Tuhan Maha Pengatur, segala sesuatu
itu ia sebutkan sebagai kodrat alam.
K.H. Ahmad
Dahlan lebih layak ditahbiskan sebagai Tokoh Pendidikan Nasional Terbesar
dibanding Ki Hajar Dewantoro. Faktanya: Muhammadiyah pelopor pembaharuan sistem
pendidikan nasional. Muhammadiyah (1912) lahir 10 tahun lebih awal dibanding
Taman Siswa (1922). Muhammadiyah menggunakan bahasa Melayu sebagai cikal bakal
bahasa Indonesia. Muhammadiyah memperjuangkan kemerdekaan. Muhammadiyah untuk
semua kalangan baik priyayi maupun abangan, baik ningrat maupun bujang dan lain
sebagainya. Oleh karena itu, hari lahir KH. Ahmad Dahlan lebih layak
diperingati sebagai hari pendidikan nasional.
