Islam dan Kisah Sangkuriang
![]() |
| Gambar Hanya Ilustrasi |
“Sekalipun orang sunda dianggap memiliki karakter kelembutan yang dominan dibanding suku-suku lain di Indonesia sehingga tergambar dalam seni pencak silatnya yang diiringi oleh gamelan (musik). Namun, sebenarnya karakteristik dasar orang sunda tidak Islami bahkan asusila seperti praktek kawin-cerai dan incest yang tergambar dalam kisah legendaris suku sunda Sangkuriang dan Dayang Sumbi.” Benarkah?
Beberapa tahun
yan lalu saya hadir dalam saresehan "Kearifan Lokal" di Cianjur
dengan narasumber Dr. Muhammad Fajar Laksana (Direktur Musium Islam Prabu
Siliwangi Sukabumi/ Dari makalahnya ternyata Prabu siliwangi Muslim bahkan
seorang Da'i).
Salah satu
point yang beliau sampaikan adalah bahwa akar budaya Sunda adalah budaya dan
tradisi yang lahir dari kerajaan terbesar di tanah pasundan yakni Pakuan
Padjajaran di bawah pimpinan Raja Muslim Prabu Siliwangi. Artinya akar budaya
Sunda adalah Islam. Dan Islam dengan begitu harus kembali menjadi filosofi
dasar, ruh serta pedoman hidup orang Sunda kini dan seterusnya.
Beliau
menyesalkan adanya mitos kisah legendaris Sangkuriang dan Dayang Sumbi yang
sama sekali tidak mencerminkan keyakinan, tradisi, budaya dan nilai Islam.
Artinya, kisah Sangkuriang itu bukan lahir dari babakan sejarah Islam di tanah
Pasundan namun lahir - bisa jadi - dibuat oleh penjajah kafir untuk mengesankan
bahwa orang Sunda yang Islam itu ternyata karakternya seperti Sangkuriang dan
Dayang Sumbi.
Masalahnya
adalah, kita selama ini merasa tidak bermasalah, sakit hati atau murang-maring,
ambek, keuheul atas adanya kisah legendaris yang menggambarkan perilaku orang
Sunda seperti itu. Bahkan mungkin kita tidak pernah mempermasalahkan kenapa
kisah nista dan melecehkan itu masih saja terus diajarkan dalam buku-buku
Budaya dan Bahasa Sunda anak-anak kita di sekolah.
Atau kisah si
kabayan yang blo'on, belegug, pamalesan, tolol, 'ngampung' beak karep. Inikah
profile yang mengambarkan jajaka Sunda? Relakah? Mungkin kata orang Amerika
yang lihat film si Kabayan: "ooohhh...jadi ini orang Sunda, stupid
ya.." Tentu ada nilai-nilai dan karakter yang baik yang ditampilkan dalam
sosok si Kabayan. Tapi, jangan sampai prototype-nya pria Sunda hanya terwakili
oleh si Kabayan.
Tujuan saya
baik, sekalipun nampaknya mengejutkan. Kenapa demikian, karena orang Sunda
(termasuk saya) sudah terlalu lama tidur dan terninabobokan, jadi perlu sedikir
diberikan shock therapy, agar bangun. “Urang sunda anu pinter, bageur, bener,
singer tur wanter teh kudu ngawujud deui ayeuna keneh kalayan didadasaran ku
budaya aslina nyaeta Islam.”
Anak-anak di
Tatar Sunda tidak mengerti apakah sejarah dan legenda sama atau tidak, ada atau
tidak dan sejalan atau tidak. Mereka hanya mengerti bahwa dulu leluhurnya ada
yang seperti itu. Status di atas bukan persepsi saya atas Suku saya (Sunda),
tapi hasil perenungan saya atas akar budaya Suku saya tersebut. Ujungnya adalah
saya ingin kita hanya bicara Islam sebagai akar budaya kita.
Incest memang
tidak terjadi antara Sangkuriang dan Dayang Sumbi, tapi yang terbaca adalah
takhayul dan khurafat serta keharaman. Dimana manusia jadi anjing, makan daging
(jantung) anjing, memaksa mengawini ibunya, mendapat bantuan jin (setan) dalam
membuat perahu dan telaga hanya semalam, pastinya Islam tidak mengajarkan
demikian. Dalam rangka apa penjajah mengarang dongeng seperti ini? Dalam rangka
merusak citra dan mental Islam dan umat Islam. Penjajahan tidak hanya dilakukan
secara fisik tapi juga psikis. Demi melemahkan semangat juang umat Islam dalam
melawan penjajahan, penjajah merusak mentalitas umat Islam dengan
dongeng-dongeng yang buruk dan nista.
