Khalifah Utsman bin Affan Nepotis?
![]() |
| Gambar Hanya Ilustrasi |
“Perpecahan dan kekacauan di masa Khalifah Utsman bin Affan terjadi karena ketidakpuasan masyarakat atas kepemimpinan Khalifah Utsman yang lebih mementingkan anggota keluarganya daripada urusan pemerintahan, sehingga beliau dibunuh.” Benarkah?
Pernyataan di
atas selalu diulang-ulang oleh kalangan liberal yang benci kepada Utsman bin
Affan karena sukses mengabadikan (mengkodifikasi) Al-Qur'an dalam sebuah
Mushaf, yang kemudian dikenal dengan Mushaf Utsmani. Sehingga mereka mencoba
merusak integritas dan kehormatan pribadi Utsman, agar terkesan bahwa apapun
(termasuk kodifikasi Al Qur'an) yang telah dilakukan Utsman bernoda.
Mereka
(musuh-musuh Islam) benci atas kesuksesan pemerintahan khalifah Utsman
menyatukan bacaan Al-Qur'an dengan begitu telah pula menyatukan Ummat. yang
sebelumnya seringkali bertikai di berbagai daerah soal bacaan dan surat
Al-Qur'an. Dalam Manajemen, mengangkat pekerja berdasarkan kekerabatan bukan
hal yang salah. Kemungkinan pengenalan karakteristik anggota keluarga jelas
lebih baik dibandingkan melalui seleksi dari luar keluarga. Jika hal tersebut
menyangkut kinerja dan harapan ketercapaian tujuan dimasa mendatang jelas
pemilihan bawahan dari pihak keluarga tidak bertentangan dengan sebuah aturan
apa pun. Artinya secara mendasar nepotisme sendiri bukan merupakan sebuah dosa.
Namun demikian
kata “nepotisme’ dewasa ini telah mengalami perubahan makna substansial menjadi
bermuatan negative. Bukan hanya bagi Indonesia, namun bagi sejumlah negara
“pendekatan kekeluargaan” tersebut telah menempati urutan teratas bagi
kategorisasi “dosa-dosa politis” sebuah rezim kekuasaan.
Oleh karena itu
maka penjelasan bahwa pemilihan anggota keluarga untuk menempati struktur
kepemimpinan dalam kasus khalifah Utsman dengan rasionalisasi pengenalan
karakteristik, jelas kurang relevan diterapkan pada masa ini, walaupun bukan
berarti tidak benar. Maka salah satu jalan yang harus dilakukan guna membedah
isu seputar nepotisme ini adalah melalui cross check sejarah terhadap
masing-masing anggota keluarga Utsman yang terlibat dalam kekuasaan. Disadari
proses ini tidaklah mudah. Maka perlu dibatasi permasalahan kajian ini dengan
menfokuskan pembahasan guna menjawab pertanyaan : Mengapa Khalifah Utsman
mengangkat beberapa keluarga dekatnya dalam struktur jabatan publik strategis ?
Utsman
mengangkat wali-wali negeri dari pihak keluarga beralasan untuk memperkuat
wilayah kekuasaannya melalui personal yang telah jelas dikenal baik
karakteristiknya. Hal ini mengingat wilayah kekhilafahan pada masa Utsman
semakin meluas. Demikian juga tanggungjawab dakwah di masing-masing wilayah
tersebut.
Selanjutnya
bila nepotis itu ada 'kesalahan' - (asas praduga tak bersalahnya) - setega
itukah kita akan menuduh Utsman sahabat yang dijamin masuk surga, yang dipilih
oleh para sahabat mulia melakukan hal demikian? Khalifah Utsman dituduh
bersikap nepotisme atau memihak kepada kaum keluarganya dalam pelantikan
jabatan – jaatan seperti Gubernur Mesir yang dipegang oleh Amr bin Ash telah
digantikan oleh Abdullah bin Sa’d bin Abi Sarah, saudara angkat khalifah Utsman
bin Affan.
Perlantikan
pegawai dan Gubernur yang dilakukan oleh Khalifah Utsman di kalangan
keluarganya berdasarkan kemampuan dan kepimpinan mereka. Selain Abdullah, Al
Walid bin Uqbah bin Sa’id bin Ash, Gubernur Kufah, Abdullah Bin Amir, Gubernr
Basrah dan Marwan Bin Hakam, mereka ini adalah sepupu Utsman. Khalifah Utsman
melantik keluarganya menjadi pegawai Kerajaan adalah sebuah kewajaran karena
mereka bisa dipercaya. Pada zaman pemerintahan Khulafa al Rasyidin, pemerintah
pusat tidak menjalankan dasar pemusatan kekuasaan seperti zaman Bani Umayyah.
Banyak perkara di daerah diselesaikan oleh gubernur di wilayah tersebut tanpa
merujuk kepada Khalifah.
Lagipula usia
Khalifah Utsman telah lanjut, tentulah memerlukan Gubernur yang bisa dipercaya
untuk menghindari banyak masalah yang timbul. Sekiranya mereka gagal
menunjukkan contoh yang baik atau tanda-tanda kepemimpinan yang berkualitas,
mereka akan dipecat seperti yang terjadi kepada al Walid. Seandainya Utsman
bersifat fanatik kepada kaum keluarganya tentulah beliau menghalangi pemecatan
al Walid karena beliau mempunyai kuasa untuk melakukan tersebut. Utsman menjadi
Khalifah selama 12 tahun, kekhalifahan selama 6 tahun, aman dan baik baik saja,
tetapi 6 tahun kemudian banyak tuduhah-tuduhan yang menimpanya, dan status di
atas adalah sebuah tuduhan yang sama sekali tidak benar.
