Manusia Tidak Mengetahui Hakikat Kebenaran?
![]() |
| Gambar Hanya Ilustrasi |
“Islam tidak membenarkan sikap orang yang sombong dan angkuh, yang merasa benar sendiri dengan pendapatnya, padahal di alam ini, yang bersifat mutlak hanya Allah. Sedangkan manusia adalah makhluk yang relatif. Karena itu, setiap pendapat manusia adalah relatif, sehingga ia tidak boleh memutlakkan pendapatnya, dengan menyalahkan atau menyesatkan orang lain. Hanya Allah yang tahu akan kebenaran yang hakiki. Manusia tidak tahu dengan pasti suatu kebenaran.” Benarkah?
Slogan
relativisme ini sebenarnya lahir dari kebencian. Kebencian Pemikir Barat modern
terhadap agama. Benci terhadap sesuatu yang mutlak dan mengikat. Generasi
postmodernis pun mewarisi kebencian ini. Tapi semua orang tahu, kebencian tidak
pernah bisa menghasilkan kearifan dan kebenaran. Bahkan persahabatan dan
persaudaraan tidak selalu bisa kompromi dengan kebenaran. Aristoteles rela
memilih kebenaran dari pada persahabatan.
Kalau anda
mengatakan “Tidak ada kebenaran mutlak” maka kata-kata anda itu sendiri sudah
mutlak, padahal anda mengatakan semua relatif. Kalau anda mengatakan “semua
adalah relatif” atau “Semua kebenaran adalah relatif” maka pernyataan anda itu
juga relatif alias tidak absolut. Kalau “semua adalah relatif” maka yang
mengatakan “di sana ada kebenaran mutlak” sama benarnya dengan yang menyatakan
“di sana tidak ada kebenaran mutlak”. Tapi ini self-contradictory yang absurd.
Jika ada yang
percaya bahwa nilai moral manusia itu adalah kesepakatan manusia, tentu ia
tidak percaya pada yang mutlak. “Semua adalah relatif” bisa berarti semua tidak
ada yang tahu Tuhan yang mutlak dan kebenaran firman-Nya yang mutlak.
Resiko
Relativisme Kebenaran:
1. Kebenaran
al-Quran hanya dimiliki Tuhan saja. Sehingga saat kebenaran itu sampai pada
manusia, ia menjadi kabur, karena manusia tidak pernah tahu apa maksud Tuhan
dalam al-Quran. Ini berarti bahwa Tuhan tidak pernah berniat menurunkan al
Quran untuk manusia.
2. Mengingkari
tugas Nabi yang diutus untuk menyampaikan dan menjelaskan wahyu.
3. Menyeret
pada pengertian bahwa seolah-olah semua ayat al-Quran tidak memiliki penafsiran
yang tetap dan disepakati. Bahkan semua penafsiran dipengaruhi oleh kepentingan
penafsir dan situasi psiko-sosialnya.
4. Menolak
otoritas keilmuan, syarat dan kaidah dalam menafsirkan al-Quran, sebab setiap
orang berhak menafsiri al-Quran dengan kwalitas yang sama nisbinya.
5. Membatalkan konsep
dakwah dalam Islam, karena semua perintah dan larangan dalam al-Quran bersifat
nisbi yang tidak harus dilaksanakan.
6. Berlawanan
dengan konsep ilmu. Sebab definisi ilmu dalam Islam adalah sifat yang dapat
menyingkap suatu objek, sehingga tidak menyisakan ruang keraguan; dan berakhir
pada keyakinan. Sementara relativisme selalu bermuara pada kebingungan (tafsir
nisbi).
