Merasa Agamanya Paling Benar

Gambar Hanya Ilustrasi


 “Untuk menciptakan kerukunan umat beragama di Indonesia, maka para pemeluk agama di Indonesia harus menghormati keyakinan pemeluk agama lainnya, dengan menghilangkan sikap merasa agamanya sendiri yang benar, superior, dan menyalahkan agama lain. Sebab, sikap tidak tawadhu’ seperti ini terbukti menjadi akar dari konflik antar umat beragama, sehingga harus dihilangkan.” Benarkah?

Setiap orang yang beragama – jika masih berpegang pada keyakinan agamanya – pasti meyakini kebenaran agamanya sendiri. Jika dia meyakini kebenaran semua agama, maka dia sejatinya sudah tidak beragama.

Pada akhirnya, golongan ‘ragu-ragu’ akan ‘berdakwah’ mengajak orang untuk bersikap ragu juga. Mereka sejatinya mereka telah memilih satu jenis keyakinan baru, bahwa tidak ada agama yang benar atau semuanya benar. Artinya, hakekatnya, ia memilih sikap untuk tidak beragama, atau telah memeluk agama baru, dengan teologi baru, yang disebut sebagai “teologi semua agama” atau “agama pluralisme.” Cak Nur sendiri menyatakan bahwa sekularisme itu ialah paham yang tidak bertuhan dan sekularisasi merupakan salah satu gagasan penting-kalau tidak disebut sebagai gagasan utama-kelompok Islam liberal. Maka seorang sekuler yang konsekuen dan sempurna adalah seorang ateis. Jika tidak, akan mengalami kepribadian yang pecah.

Postingan populer dari blog ini

Pendidikan Islam Integral

Al-Ghazali dan Perang Salib

Keprihatinan Seorang Natsir