Pahlawan Wanita Terbesar di Indonesia
![]() |
| Gambar Hanya Ilustrasi |
“Pahlawan wanita terbesar di Indonesia adalah R.A. Kartini yang dalam hidupnya telah melakukan tindakan besar dalam memajukan wanita Indonesia.” Benarkah?
Harsja W.
Bachtiar, yang menamatkan doktor sosiologinya di Harvard University, menggugat
dengan halus, mengapa harus Kartini yang dijadikan sebagai simbol kemajuan
wanita Indonesia. Ia menunjuk dua sosok wanita yang hebat dalam sejarah
Indonesia. Pertama, Sultanah Seri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Johan Berdaulat
dari Aceh dan kedua, Siti Aisyah We Tenriolle dari Sulawesi Selatan. Anehnya,
tulis Harsja, dua wanita itu tidak masuk dalam buku Sejarah Setengah Abad
Pergerakan Wanita Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1978), terbitan resmi
Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Tentu saja Kartini masuk dalam buku
tersebut.
Padahal, papar
Harsja, kehebatan dua wanita itu sangat luar biasa. Sultanah Safiatudin dikenal
sebagai sosok yang sangat pintar dan aktif mengembangkan ilmu pengetahuan.
Selain bahasa Aceh dan Melayu, dia menguasai bahasa Arab, Persia, Spanyol dan
Urdu. Di masa pemerintahannya, ilmu dan kesusastraan berkembang pesat. Ketika
itulah lahir karya karya besar dari Nuruddin ar-Raniry, Hamzah Fansuri, dan
Abdur Rauf. Ia juga berhasil menampik usaha-usaha Belanda untuk menempatkan
diri di daerah Aceh. VOC pun tidak berhasil memperoleh monopoli atas
perdagangan timah dan komoditi lainnya. Sultanah memerintah Aceh cukup lama,
yaitu 1644-1675. Ia dikenal sangat memajukan pendidikan, baik untuk pria maupun
untuk wanita.
Tokoh wanita
kedua yang disebut Harsja Bachriar adalah Siti Aisyah We Tenriolle. Wanita ini
bukan hanya dikenal ahli dalam pemerintahan, tetapi juga mahir dalam
kesusastraan. B.F. Matthes, orang Belanda yang ahli sejarah Sulawesi Selatan,
mengaku mendapat manfaat besar dari sebuah epos La-Galigo, yang mencakup lebih
dari 7.000 halaman folio. Ikhtisar epos besar itu dibuat sendiri oleh We Tenriolle.
Pada tahun 1908, wanita ini mendirikan sekolah pertama di Tanette, tempat
pendidikan modern pertama yang dibuka baik untuk anak-anak pria maupun untuk
wanita.
Penelusuran
Prof. Harsja W. Bachtiar terhadap penokohan Kartini akhirnya menemukan kenyataan,
bahwa Kartini memang dipilih oleh orang Belanda untuk ditampilkan ke depan
sebagai pendekar kemajuan wanita pribumi di Indonesia.
Dewi Sartika
(1884-1947) bukan hanya berwacana tentang pendidikan kaum wanita. Ia bahkan
berhasil mendirikan sekolah yang belakangan dinamakan Sakola Kautamaan Istri
(1910) yang berdiri di berbagai tempat di Bandung dan luar Bandung. Rohana
Kudus (1884-1972) melakukan hal yang sama di kampung halamannya. Selain
mendirikan Sekolah Kerajinan Amal Setia (1911) dan Rohana School (1916), Rohana
Kudus bahkan menjadi jurnalis sejak di Koto Gadang sampai saat ia mengungsi ke
Medan. Ia tercatat sebagai jurnalis wanita pertama di negeri ini.
Bahkan kalau
melirik kisah-kisah Cut Nyak Dien, Tengku Fakinah, Cut Mutia, Pecut Baren,
Pocut Meurah Intan, dan Cutpo Fatimah dari Aceh, klaim-klaim keterbelakangan
kaum wanita di negeri pada masa Kartini hidup ini harus segera digugurkan.
Mereka adalah wanita-wanita hebat yang turut berjuang mempertahankan
kemerdekaan Aceh dari serangan Belanda. Tengku Fakinah, selain ikut berperang
juga adalah seorang ulama-wanita. Di Aceh, kisah wanita ikut berperang atau
menjadi pemimpin pasukan perang bukan sesuatu yang aneh. Bahkan jauh-jauh hari
sebelum era Cut Nyak Dien dan sebelum Belanda datang ke Indonesia, Kerajaan
Aceh sudah memiliki Panglima Angkatan Laut wanita pertama, yakni Malahayati.
