Pangeran Diponegoro

Gambar Hanya Ilustrasi


“Pangeran Diponegoro berperang melawan Belanda karena kecewa tanah leluhurnya dirampas oleh Belanda dan tahta Kerajaan Mataram tidak diserahkan kepada dirinya, tetapi diserahkan oleh Belanda kepada adiknya.” Benarkah?

Kakek buyutnya, Sultan Hamengkubuwono I pernah meramalkan Pangeran Diponegoro akan menjadi pahlawan besar yang meusak orang kafir. Pangeran Diponegoro resah melihat kehidupan keraton penuh intrik dan kemerosotan moral akibat pengaruh Belanda

Beliau berkata: “Namaningsun kanjeng sultan NgabdulKamid. Wong Islam kang padha mungkir arsa ingsun tata. Jumeneng ingsun Ratu Islam tanah Jawi.” (Dari buku ke buku, sambung menyambung menjadi satu, 2002)

Pasukan Pangeran Diponegoro terdiri dari; 108 Kyai, 15 Syeikh, 12 Penghulu, 4 kyai Guru dan ribuan santri. (Peter Carey, Oxford University) “Sebagai seorang yang berjiwa Islam, ia sangat rajin dan taqwa sekali hingga mendekati keterlaluan. (De Java oorlog Van, 1825-1830). Nama panjang dan gelar Pangeran Diponegoro, Sultan Abdulhamid Erucakra Sayidin Panatagama Khalifat Rasulullah Sayidin Panatagama

Pangeran Diponegoro, nama kecilnya, pangeran Ontowiryo, berperang melawan Belanda selama lima tahun, 1825 - 1830. Kakaeknya, Pangeran Mangkubumi, Raden Mas Sujono, yang kemudian menjadi Sultan Hamengkubuwono I, pernah melibas satu batalyon pasukan Belanda di sekitar Sungai Bogowonto.

Untuk mengalahkan pangeran Diponegoro, Belanda mesti mengangkat kembali ayahnya yang telah diberhentikan sebelumnya, Sultan Hamengkubuwono II, agar menjadi wali Sultan Hemngkubuwono IV. sehingga kekuatan penopang sang pangeran bisa dipreteli satu demi satu dengan memanfaatkan kultur budaya jawa.

Semangat apa yang bisa mendasari perjuangan seperti ini, gerilya selama lima tahun melawan semua kekuatan yang ada, kekuatan kolonialis, kekuatan imperialis, kekuayan kapitalis, kekuatan feodalis. kalau sang pangeran menggunakan hitung - hitungan politik seperti yang dilakukan kekuatan - kekuatan zaman kiwari yang membual berjuang demi idealisme pasti sudah "tinggal glanggang colong playu", lari terbirit - birit, ambil selimut tidur di kasur. sadumuk batuk sanyari bumi, ini bumi Allah, silahkan tuwan ambil senapan, tak kan beta surut ke belakang. Bumi Allah ini hanya boleh kalimat tauhid yang tegak, sekalipun meriam berdentum, walau hanya dengan keris dan pedang tak boleh kita surut mundur. apa yang tuan pangeran cari, harta, tahta, wanita? orang yang menuduh dan menghina tuang poangeran, pastilah penghamba dunia yang hina dina! Jadi, perlawanan Pangeran Diponegoro terhadap kolonial adalah perjuangan jihad melawan penjajah kafir.

Postingan populer dari blog ini

Pendidikan Islam Integral

Al-Ghazali dan Perang Salib

Keprihatinan Seorang Natsir